Selasa, 26 Mei 2009

kesan berkunjung di arsip pakualaman

NAMA : RANISAFAJRI ANINDITA PATRAJUANGGA

NIM : 08/267919/SA/14353

JURUSAN : ANTROPOLOGI BUDAYA


LAPORAN HASIL KULIAH LAPANGAN DI ARSIP PAKUALAMAN

Pengantar Historiografi adalah salah satu mata kuliah wajib yang ada di jurusan saya. Pada hari kamis tanggal 2 April 2009 saya dan teman- teman melaksanakan kuliah lapangan di Kearsipan Pakualaman. Saya sangat senang bisa berada di tempat tersebut, bangunannya kuno namun masih berdiri kokoh. Selain itu, di depan pendopo Pakualaman banyak kendaraan roda empat berjajar, dari sini dapat dilihat bahwa betapa kayanya sebuah keluarga kerajaan. Itulah kesan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Puro Pakualaman.

Ketika masuk di ruang Arsip Pakualaman, saya sangat miris melihat ruangan itu, banyak debu seperti tak ada yang membersihkan tetapi dibalik itu banyak hal yang saya dapatkan di sana. Salah satunya saya melihat koleksi- koleksi yang umurnya tua sekali dan saya sangat tertarik dengan sebuah majalah yang masih menggunakan aksara Jawa, majalah itu sepertinya berbau komersil karna terdapat iklan sepatu “bata”, obat “aspirin”, pupuk, sebun, dsb. Saya tidak menyangka dengan hal itu ternyata zaman dulu sudah mengenal “iklan” dan banyak barang- barang yang umurnya juga sudah cukup tua seperti “bata”. Wow…luar biasa Arsip Pakualaman masih dapat melestarikan data- data tertulis masa lampau. Bukan hanya majalah saja tetapi ada sebuah buku yang berukuran besar sekali, seumur hidup saya belum pernah melihatnya dengan judul “Luiscius Historische Woordenboek”. Buku itu berbahasa Belanda, sebenarnya masih banyak lagi buku- buku yang menarik untuk dibaca namun banyaknya debu membuat saya malas untuk membaca. Itulah kesan sesi I ketika saya berada di ruang arsip dan perpustakaan.

Pada sesi II saya lebih tertarik untuk mengetahui koleksi- koleksi yang dimiliki Puro Pakualaman mungkin karna situasi dan kondisi yang sangat mendukung, penerangan cukup begitu juga dengan ruangannya yang bersih. Ruangan ini berbeda dengan ruangan pada sesi I. Koleksi- koleksi yang sangat menarik adalah surat- surat emas, foto- foto, kartu- kartu seperti pembayaran pajak, dan lain- lain. Surat- surat emas adalah surat antar raja biasanya untuk kepentingan peraturan atau kekuasaan. Sekarang jika mengirim surat menggunakan amplop tetapi dulu memakai bambu yang berukuran panjang, kira- kira berdiameter 5cm, kertasnya menggunakan kulit asli, dan tulisannya dengan tinta emas.

Setelah melihat Arsip Pakualaman saya baru mengerti bahwa pentingnya tempat seperti itu terutama bagi sastrawan dan antropolog. Menurut saya akan lebih baik jika Arsip Pakualaman lebih terbuka dengan masyarakat, mungkin dengan arsip Pakualaman dijadikan obyek wisata bukan hanya sebagai tempat penelitian. Namun sejauh ini dengan adanya kuliah lapangan di Arsip Pakualaman saya lebih dapat menghargai sebuah karya. Betapa berharganya koleksi- koleksi tersebut bagi kita. Bukan hanya budaya saja yang kita jaga dan lestarikan tetapi juga data- data lampau bangsa kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar