Selasa, 26 Mei 2009

orang- orang Indonesia

“INDONESIA DAN ORANG- ORANG INDONESIA”

Pada “ujian tengah semester ini”, saya akan menjelaskan mengenai pendapat Akira Nagazumi (1976) bahwa “masalah bilamanakah dan oleh siapakah kata Indonesia pertama kalinya dipergunakan, kurang begitu penting daripada implikasi penggunaan kata “Indonesia” dan “orang- orang Indonesia” dalam arti politis”. Sampai akhir abad XIX, identifikasi diri sebagai “Indonesia” masih tetap relevan dikaji; terutama untuk kepentingan eksistensi dari sebuah nation state atau negara bangsa. Dalam hal ini saya akan memberikan penjelasan tentang siapa dan bagaimana awal pemakaian kata “Indonesia”, pekembangan pemakaian kata tersebut, penggunaan kata “Indonesia” dan “orang- orang Indonesia” dalam arti politis, saya juga akan menganalisis, memberikan pendapat, dan menyimpulkan mengenai “pernyataan” Akira Nagazumi.
Terdapat beberapa pendapat mengenai awal terbentuknya pemakaian kata “Indonesia”. Soekarno, kata “Indonesia” berasal dari seorang ethnolog Jerman, Jordan. Pemberian nama itu dikarenakan kepulauan ‘kami’ letaknya dekat dengan India, maka dinamakan “Kepulauan India”, Nesos dalam bahasa Yunani; kepulauan, menjadi Indusnesos dan akhirnya Indonesia. Menurut Akira Nagazumi pernyataan tersebut hanya benar sebagian. Kemudian muncul pada tahun 1884 sebuah karya yang berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayaischen Archipel oleh Adolf Bastian. Namun Moh. Hatta menolak mentah- mentah dengan menyunting penemuan Kreemer, bahwa kata tersebut pertama kali digunakan oleh J.R. Logan dalam tulisannya “The Ethnology of the Indian Archipelago”. Awalnya pada tahun 1850 seorang Inggris, Earl, menganjurkan nama “Indu-nesians” atau “Malaya-nesians” bagi penduduk “Indian Archipelago” atau “Malayan Archipelago”, Earl lebih suka dengan istilah yang kedua sedangkan Logan pada tahun yang sama lebih menerima istilah yang pertama, yaitu “Indian Archipelago”. Menurut Logan, itu adalah Indonesia menurut penamaan seperti: Polinesia, Melanesia, Mikronesia. Jadi ”Bapak dari kata Indonesia” adalah Logan.
Pada masa pra- kolonial nama bagi seluruh kepulauan guna tujuan praktis tidak ada. Contohnya saja, kata “Borneo” yang dinamakan berdasarkan Brunei. Nama tersebut berasal dari orang- orang Eropa. Dalam perkembangannya daerah “Indonesia” disebut sebagai Indie atau India, selanjutnya “Achter-Indie” yang melingkupi Asia Tenggara, agar lebih praktis akhirnya disebut sebagai Indische Archipel (Kepulauan Indie). Bahkan pemerintah Belanda sering menyebut Nederlandsch, yang terdengar sebagai penghinaan di telinga bangsa Indonesia. Sebelum “Indonesia” ada kata yang disetujui oleh nasionalis, yakni “Insulinde” oleh Douwes Dekker dan “Nusantara”. Tetapi pada waktu itu, Insulinde berfungsi hanya untuk memajukan kepentingan- kepentingan orang- orang Indo-Eropa sehingga kata “Insulinde” tidak berhasil untuk dijadikan pengganti yang dapat diterima oleh Hindia- Belanda. Begitu juga dengan kata “Nusantara”, B.H.M. Vlekke memberi nama pada karyanya mengenai sejarah Indonesia dengan judul Nusantara, Armijn Pane memperluas konsep Nusantara bahkan sampai melampaui kawasan Republik Indonesia sekarang ini namun kata- kata tersebut tidak akan dapat cukup memuaskan perasaan nasionalis bangsa Indonesia. Selama perkembangan itu, banyak ahli- ahli modern yang menggunakan kata “Indonesia”, seperti pada organisasi- organisasi politik, partai politik, dan surat kabar atau media masa. Misalnya Partai Nasional Indonesia, Perhimpunan Indonesia, dsb. Maka pemakaian kata “Indonesia” dengan cepat ke seluruh kepulauan pada tahun 1925. Sebelumnya telah terjadi dilemanya anggota- anggota Belanda yang bermaksud baik dalam Verbond tercemin dari tulisannya berjudul “Nama Indonesia” dalam berkala Hindia Poetra tahun 1922.
Kata- kata untuk “orang- orang Indonesia” bahkan rumit lagi. Tetapi pernyataan orang Indonesia dalam sebutan bahasa Belanda juga beroleh isi yang lain. Dalam undang- undang yang berhubungan dengan Hindia Belanda atau “Nedelandsch-Indie” anak negeri dalam kerajaan Belanda itu dinamakan “Inlanders”. Hal itu menunjukkan “kolonial” Berdasarkan dokumen- dokumen sejarah dari Hindia Belanda, mereka menyebut “orang- orang Indonesia” menurut nama daerah asalnya. Seperti orang Jawa, orang Sunda, atau dahulu sering disebut sebagai Inlander yang memiliki makna penghinaan dan penyinggungan perasaan khususnya orang Indonesia. Sampai sekarang pun hal itu masih terbawa, masih banyak orang Indonesia yang menyebut dirinya sebagai orang Jawa walaupun ia berasal dari Banyumas. Seperti yang dikatakan oleh Schrieke, kata “orang- orang Indonesia” akan menjadi masalah jika dilihat dari perspektif kebudayaan dan geografis. Sementara itu, istilah “orang Indonesia” memperoleh arti yang lebih terbatas dari seorang yang termasuk ke dalam penduduk bumi putra, bukan dari Indonesia melainkan Hindia Belanda. Hal itu disebabkan karena istilah tersebut mendapatkan isi kenegaraan yang sebelumnya tidak dimilikinya dan sebagai suatu akibat daripadanya “’Indonesia” lebih merupakan suatu pengertian yang sama dengan pengertian kenegaraan Hindia-Belanda. Penyelesaian perkembangan itu tampak pada kita dalam kejadian- kejadian sesudah perang dunia yang akhir, yang menyebabkan sampai terjadinya Republik Indonesia. Indonesia mengakui kemerdekaannya yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus tetapi Belanda sampai sekarang mengakuinya pada tanggal 27 Desember.
Akhirnya, Soekarno berinisiatif untuk mempersatukan perasaan nasionalisme bangsa Indonesia sebagai keseluruhan, tanpa memandang perbedaan kebudayaan, suku, dan agama. Kesadaran “Indonesia” ini mencapai puncaknya pada Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Satu Bangsa, satu Negara, dan satu Bahasa. Peristiwa ini akhir dari penyelesaian perkembangan lama dari kata “Indonesia” dan “orang- orang Indonesia” secara politis maupun kebudayaan.
Menurut Nagazumi, sesungguhnya tidak menjadi soal bilamana dan oleh siapa kata- kata ini digunakan pertama kalinya, kata- kata ini tidak pernah tersebar luas sampai tahun 1884, bahkan di kalangan sarjana- sarjana pun tidak. Menurut Fischer, implikasi- implikasi kata- kata ini tetap menimbulkan pertentangan- pertentangan yang besar selama bagian akhir abad ini. Khususnya, definisi “orang- orang Indonesia” turun naik dari pemakaiannya, yang paling diskriminatif untuk kelompok etnik pra-Malayu, seperti suku Batak, Dayak, dan lain- lain. Nagazumi juga menyebutkan kata- kata itu sendiri tidak terlampau penting, akan tetapi dalam hubungan kebudayaan, kata- kata itu sudah tentu dapat dipergunakan sebagai petunjuk yang paling berharga bagi perjalanan sejarah yang rupanya sangat rumit.
“Indonesia” dalam pengertian politis adalah mengenai cakupan wilayahnya atau geografinya. Padahal sampai sekarang masih banyak kasus- kasus tentang perebutan kekuasaan wilayah. Bagaimana tidak? Di Indonesia saja ada yang bukan warga Republik Indonesia namun tinggal di Indonesia, dan banyak pulau- pulau di Indonesia yang tidak termasuk ke dalam daerah Negara Indonesia sehingga mudah sekali Negara- Negara tetangga mengklaim bahwa pulau yang didekatnya adalah miliknya, seperti Malaysia. Gugusan kepulauan seperti Indonesia, Melanesia, Polinesia, dan Mekronesia bersama- sama meliputi pulau daerah barat sampai timur Indonesia, yang disini saya permasalahkan adalah “mereka” hidup di Negara kesatuan Republik Indonesia tetapi berbeda nenek moyangnya. Seperti Papua secara politis “mereka” warga Negara Indonesia namun secara kebudayan “mereka” termasuk Melanesia. Hal tersebut mengakibatkan perbedaan- perbedaan diantaranya yakni kebudayaannya, cara menghasilkan kebutuhan hidupnya, bahasanya, dsb.
Menanggapi dari pernyataan Nagazumi bahwa “masalah bilamanakah dan oleh siapakah kata Indonesia pertama kalinya dipergunakan, kurang begitu penting daripada implikasi penggunaan kata “Indonesia” dan “orang- orang Indonesia” dalam arti politis”. Menurut saya, ada benarnya pernyataan Nagazumi memang lebih penting menyelesaikan permasalahan Indonesia dan orang Indonesia secara politik tetapi di sini saya akan menambahkan jika sebaiknya pernyataan itu menjadi seperti ini “masalah bilamanakah dan oleh siapakah kata Indonesia pertama kalinya dipergunakan, kurang begitu penting daripada implikasi penggunaan kata “Indonesia” dan “orang- orang Indonesia” dalam arti politis dan kebudayaan”. Karena jika dilihat dari realitanya sampai sekarang Indonesia sendiri belum mampu menyelesaikan permasalahan “orang- orang Indonesia secara politik dan kebudayaan”. Politik dan kebudayaan ini sangat berhubungan secara timbal balik, sehingga harus diselesaikan secara bersama- sama. Masalah siapa dan bagaimana pemakaian kata- kata tersebut memang tidak terlalu penting bagi perspektif “culture” namun ini menjadi penting jika dilihat dari perpektif sejarah. Dapat disimpulkan bahwa setiap orang memiliki pemikiran sendiri- sendiri dan pastinya menurut perspektif yang dianutnya. Seperti saya yang belajar di ilmu antropologi, pasti akan melihat dari sudut pandang “culture” sehingga saya menanggapi agak kurang setuju jika Akira Nagazumi berpendapat seperti itu.

REFERENSI :
Nagazumi, Akira. 1976. Dengan sub-judul : “Indonesia” dan “Orang- orang Indonesia” Semantik dalam politik; hal 1-25.
Fischer,T.H. Cetakan Ketiga. Pengantar Antropologi Kebudayaan Indonesia.
Poerwanto, Hari. 2006. Dinamika Hubungan- Hubungan antar Suku Bangsa.
Catatan- catatan selam perkuliahan “Kesukubangsaan dan Nasionalisme”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar