Selasa, 26 Mei 2009

review involusi&teori evolusi

REVIEW INVOLUSI PERTANIAN INDONESIA
(KATA PENGANTAR DAN KESIMPULAN)
Pertanian, Landasan Tolak bagi Pengembangan Bahasa Indonesia
C. GEERTZ

Kata Pengantar

1. Latar Belakang
Kurang lebih 1 tahun C. Geertz ( Pola kepercayaan masyarakat Jawa), A. Dewey ( Pola ekonomi perdagangan), H. Geertz (Keluarga dan kekerabatan), Lay ( Masyarakat pedesaan) melakukan penelitian lapangan antropologi di kota kewedanan Jawa Timur. Namun, Clifford Geertz yang paling produktif karna dia membandingkan perkembangan masyarakat Jawa dan Bali serta perkembangan antara masyarakat di negara- negara berkembang. Adapun teori- teori yang digunakan Geertz dalam studi lapangannya adalah pemikiran Redfield ( pola kebudayaan dalam tradisi agung dan kecil) dan Steward ( pola struktur antara integrasi komunitas, daerah, dan nasional). Pola- pola pemikiran tersebut tertuang pada menempatkan kasus satu kota kecil dan masyarakat desa ke dalam pola masyarakat dan kebudayaan Jawa maupun Indonesia. Konsepsi Steward yang dipakai yaitu ekologi kebudayaan dalam meneliti suatu ekosistem yang ditujukan pada “inti pola kebudayaan” ( cultural core) masyarakat. Buku Involusi Pertanian ini membawakan ambisi pandangan luas seorang antropolog yang tidak meminjam peralatan analisis ilmu sejarah dan ekonomi untuk mencapai taraf makro.
Geertz mengenal taraf perkembangan masyarakat Jawa(th 1952-1954) sebagai hasil perkembangan sejarah penjajahan. Ekonomi Hindia Belanda bersifat dualistic yang membagi menjadi 2 sektor, yakni sektor ekonomi ekspor dan sektor industri. Sektor ekonomi ekspor yang kapitalisme menghasilkan gula untuk diekspor sedangkan sektor industri menghasilkan usaha tani, industri rumah tangga, perdagangan, dsb. Berkaitan dengan tambahnya penduduk di pulau Jawa masih dapat diatasi dengan penampungan tenaga maupun penampungan kebutuhan hasil produksi sawah karena pola pertanian dengan sistem irigasi. Hubungan ini dapat saling menguntungkan jika wilayah tebu dengan pabrik gula berdekatan. Segi pola perkembangan ini menunjuk adanya pengaruh merugi pada pedesaan Jawa yang sudah kehilangan unsur tradisi lama tetapi belum mencapai corak modern, sehingga terhenti pada taraf “post tradisional”. Selain itu, pola perkembangan sawah setelah penjajahan dinilai mandek karna “kapitalisme” Belanda. Kemandekan dan kemacetan pola pertanian ditunjukkan oleh tidak adanya kemajuan yang hakiki.

2. Beberapa Tafsiran Arti Involusi
Para antropolog memakai istilah “involusi” dalam meneliti suatu bentuk kesenian, Geertz menggunakannya sebagai alat analitik. Dalam usaha tani sawah involusi digambarkan oleh taraf produktivitas yang tidak menaik dengan mencapai ukuran per orang (tenaga kerja). Kenaikan hasil per hektar memang dicapai, tetapi hasil yang lebih tinggi itu hanya cukup untuk mempertahankan taraf penyediaan pangan per orang yang makan nasi. Geertz menunjukkan bagaimana cara petani mengatur penyerapan banyak tenaga, yang lebih penting diperhatikan lagi pola pemilikan tanah adalah pola membagi kesempatan bekerja dalam usaha tani yang memang sempit (1ha) sejak awal abad lalu, waktu penduduk Jawa masih belum 10juta di pulau yang masih kosong. Dalam 1ha sawah pemakaian buruh tani upahan (80% tenaga) oleh 98% petani dan kecilnya sumbangan tenaga keluarga petani sendiri. Ini menunjukkan pola membagi kesempatan kerja di dalam usaha tani sawah di Jawa. Istilah “usaha tani keluarga” dalam hal itu salah kaprah.
Kesimpulan Geertz (implisit) bahwa involusi pertanian itu tidak menghasilkan kelas petani komersial yang berarti di Jawa, hal itu tidak dapat dibenarkan. Dapat dipastikan bahwa lapisan teratas itulah (32%) kelas petani komersial mau mengeluarkan uang untuk masukan tenaga buruh upahan, dan sejak “revolusi pupuk” (tahun1960an) mengeluarkan uang untuk masukan modern. Lapisan atas petani itu komersial dan progresif didapat dari penelitian di pedesaan Jawa Barat oleh Herman Soewardi (1972) yaitu sbb:
35% petani lapisan atas memiliki; sikap mental modern, memiliki empati, dan dorongan maju yang tinggi.
Lapisan petani marginal; kurang modal dan tidak bebas.
Lapisan proletar dan setengah proletar di pedesaan; tergantung dari buruh upahan dan bermodal kecil.
Geertz menggambarkan golongan buruh kecil di kota kecil, tetapi dalam hubungan “involusi pertanian” ini tidak menyoroti lapisan lain di pedesaan (di luar petani). Dalam hubungan antara ekosistem padi sawah dan ekosistem tebu dan pabrik gula jelas berlainan dengan peranan petani pemilik tanah. Namun dalam hal ini Geertz salah informasi, seakan- akan syarat ekologi pertanaman tebu sama dengan ekologi padi sawah. Petani dari lapisan atas di Jawa dengan usaha tani berupa sawah jika tergolong “terkena involusi” karena saratnya menampung tenaga, tetap berusaha mengembangkan diri agar menjadi lebih komersial. Usaha tani yang lebih dalam terkena involusi adalah usaha tani padi sawah yang lebih sarat menanggung beban tenaga kerja dan pendapatan yang diberikan tenaga kerja relatif besar. Namun petani yang kurang terkena involusi juga lebih maju dalam menerima bibit unggul dan pupuk; mencapai tingkat produktivitas lebih tinggi disbanding petani yang terkena involusi. Sebagai perbandingan di desa yang lebih bebas dari involusi, tingkat upah buruh sawah lebih rendah(0,2kg beras sejam) dan lapisan keluarga tidak bertanah atau dibawah 0,25ha juga lebih besar. Di desa itu juga ada petani tebu dan pabrik gula, namun ini tidak menjadi halangan bagi majunya usaha tani sawah.

3. Kemiskinan Bersama dan Involusi Menular
Kecenderungan pada usaha tani yang relatif makin bebas dari involusi sumbangan dan imbalan bagi buruh tani makin kecil apakah ini berarti memudarnya pola “kemiskinan bersama”? Angka pemanfaatan tenaga kerja terus semakin tinggi, pada usaha tani yang lebih maju sebanyak 1106jam dan pada usaha tani yang terkena involusi berat sebanyak 136jam. Di Jawa, penerimaan bibit padi unggul baru, pupuk, dsb tidak menambah lagi pemanfaatan tenaga di dalam bertanam padi sawah, sebelum panen. Tahap panen menjadi perhatian petani lapisan atas yang sudah mengenyam teknologi baru dan kredit murah. Besarnya biaya panen tercatat bahwa upah panen padi sawah sebesar 37% dari beban upah buruh. Tebasan berarti jumlah buruh panen berkurang dan bekerja lebih keras (termasuk menggabahkan di sawah) dengan upah lebih tinggi bagi tiap orang yang lebih mujur tidak tersisihkan.
Menurut Geertz, kemiskinan bersama hanyalah konsekuensi belaka dari involusi usaha tani: tingkat produktivitas yang tidak menaik ( atau bahkan turun) mendorong pembagian rezeki kepada pembagian tingkat nafkah yang rendah bagi semua. Jika corak pembagian itu diteliti dalam satuan usaha tani antara petani pengelola (pemilik tanah) dan buruh tani, maka pemiliknya yang lebih mujur karna adanya penilaian umum di desa akan unsur modal tanah. Di sini Geertz lebih memperhatikan ikatan komunal atau unsur keselarasan dalam serba “organisasi” dan “kesatuan pola kebudayaan” yang pastinya tetap mendapatkan tekanan ekonomi penjajah. Geertz juga membalikkan kesimpulan Boeke yang statis mengenai masyarakat desa Jawa menjadi miskin karna penjajahan.
Arti “involusi” (Geertz) dikenakan juga pada satuan usaha lain bukan pertanian saja bahkan juga pada keseluruhan satu- satu sektor misalnya: perdagangan, industri rumah tangga,dsb. Munculnya usaha palawija di Jawa tetap tidak mengubah corak involusi usaha tani karna sistem sawah tetap intinya. Arti involusi usaha tani pada usaha lain didasarkan pada rendahnya tingkat produktivitas tenaga atau efisiensi kerja saja. Bagi “orang yang suka teori”, involusi hanya sekedar sebuah perspektif, dimana istilah lain dari evolusi atau revolusi. Bagi “yang suka pandangan praktis” involusi menimbulkan pertanyaan adakah kesempatan/ pilihan lain? Kesempatan (peluang) yang mampu mengubah orang dan pola hidup masyarakat.
Ciri “involusi” digambarkan oleh Geertz sebagai penjalaran pada bidang- bidang lain; pada pelapisan masyarakat di desa, hubungan keluarga, bahkan pada pola kepercayaan. Tepat tidaknya membicarakan “inti pola kebudayaan” akan berlaku dalam usaha menguasai ekonomi. Akan mendorong kemajuan pertanian jika membatasi diri pada bidang pembangunan ekonomi, sektor industri, dll yang pastinya cukup berkembang. Menurut Geertz, berbicara mengenai pembangunan ekonomi kita juga harus berbicara mengenai pembangunan bidang sosial dan kebudayaan sampai ke tingkatan pola kepercayaan masyarakat juga.

4. Implikasi Kebijaksanaan Pembangunan
Intensifikasi pertanian sawah baru berhasil jika keuntungannya digunakan untuk membangun industri yang mampu menyerap banyak tenaga dari pertanian. Corak industri apa yang dapat menampung banyak tenaga tanpa ketrampilan? Dalam hal ini Geertz membandingkan pada kasus Jepang namun ia tidak menyebut bahwa 2 corak industri yang dikembangkan menampung banyak tenaga dan tersebar di pedesaan yang mampu membina hubungan saling dukung dengan industri besar dan modern. Sekarang ini kita baru mempersalahkan peluang membina sektor informal, jika nasib petani lapisan atas sudah lebih cerah prospeknya bagaimana dapat mengangkat golongan petani yang gurem dan marginal yang statusnya tidak dikenal oleh dunia perbankan?
Perubahan pola pertanian menjadi “perkebunan rakyat” mengejar uang dari ekspor berdasarkan kasus di Sumatera Barat yang dinilai Geertz sebagai salah satu revolusi semu yang banyak kemacetan- kemacetan; kebun karet “tidur” dan petani karet yang tergantung dari banyak tenaga penyadap bagi hasil, Infrastruktur pemasaran yang masih menyedihkan, harga karet yang kurang dari 50% dari harga ekspor. Industri penting yang masih terbatas di Jawa yakni pabrik gula tebu yang sudah meninggalkan sistem sewa tanah petani. Konsepsi “perkebunan inti” akan membawa infrastruktur modern kepada petani. Dalam perkembangan ini perlu mendapatkan dukungan dan pengarahan seksama dengan harapan bukan saja golongan petani yang maju dalam berbagai organisasi. Berikut ini adalah sarana pokok pertumbuhan organisasi pada taraf rakyat yang berhasil :
Sistem ekonomi desa ; mengenai penataan rumah tangga di Jawa perlu diperhatikan karena masih saja berdasar perundang-undangan pada jaman penjajahan.
Memperkuat aparatur pemerintahan di taraf Kecamatan ; komunikasi antara Pemerintah taraf kecamatan dengan pemimpin lapisan atas di desa harus lancar.
Adanya pola demokrasi yang membina dialog antar lapisan ; dilakukan untuk kepentingan bersama.
Bentuk-bentuk partisipasi lapisan bawah harus diperhatikan.






















Bab 3 Kesimpulan

Perbandingan dan Harapan
Maleise (1930), pendapatan ekspor Hindia Belanda merosot. Pada bulan Mei 1940 Belanda diduduki Jerman dan Hindia Belanda menempati kedudukan yang tidak pantas. Pada tahun 1942 kekosongan negri induk terisi, Tokyo sebagai ibu kotanya. Pada Agustus 1945 Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Maleise, perang, pendudukan, dan revolusi semuanya terjadi selama dua dasawarsa, hanya perang saudara dan inflasi saja yang belum terjadi dan akhirnya terjadi pada tahun 1950-an.

a. Keadaan Dewasa Ini
Penyerahan kedaulatan, pemolitikan masyarakat secara menyeluruh, dan kemenangan nasionalisme yang radikal memang mengubah lingkungan moral dari aktivitas ekonomi, namun mengenai bentuk umum aktivitas itu, aforisme Bergson hampir benar seluruhnya. Ketika struktur tematis (VOC)mengembangkan Sistem Tanam Paksa dan berlanjut pada Sistem Perkebunan Besar. Dualisme teknologi, ketakseimbangan regional, dan involusi ekologi masih tetap ada maka frustasi cita- cita Indonesia tidak hilang juga. Perubahan- perubahan terus terjadi, kecuali pada kasus minyak bumi yang orang- orang Eropa memainkan peranan yang lebih kecil dalam sektor padat modal ekonomi rangkap. Sedangkan berbanding berbalik dengan industri gula dan perusahaan perkebunan yang pada zaman penjajahan Jepang hanya memusatkan pada peperangan saja. Sementara itu pergeseran mulai terjadi yakni pergeseran ke arah ekspor bahan mentah industri yang mengakibatkan merosotnya ekspor bahan makanan, rempah- rempah, serat- seratan,dsb terus berlangsung. Jika ada perubahan biasanya ketidakseimbangan makin melebar.
Involusi terus berlangsung dan meluas, karena proses yang pada mulanya terasa di daerah gula hampir seluruh Jawa. Hal tersebut membuktikan makin banyak tempat di Pulau Jawa yang kondisi demografisnya dan kondisi sosialnya makin sama dengan kondisi yang berlaku di tempat yang paling padat penduduknya dalam jangka waktu lampau. Iso Reksohadiprodjo dan Soedarsono Hadisapoetro menganalisis bahwa daerah yang padat penduduknya tetap ada di dalam golongan kepadatan umum dari tahun 1920 ke 1930, tetapi “daerah- daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah pada tahun 1920 menunjukkan kecenderungan pada kepadatan penduduk yang lebih tinggi pada tahun 1930 dan lebih menyolok lagi pada tahun 1955”. Ini dapat terjadi sebagai akibat perpindahan penduduk ke kota yang jumlahnya lebih besar daripada daerah yang menderita karna malaise dan sedikit banyak juga akibat migrasi antar daerah ke daerah pedesaan yang kurang padat penduduknya. Selain itu, berakibat merosotnya produksi di Jawa kecuali Sidoarjo di sebelah selatan Surabaya. Geertz mengatakan, singkatnya, perbedaan yang tajam antara “Indonesia Dalam bagian dalam” dengan “Indonesia Dalam pada umumnya menjadi sangat kabur. Apa yang dulu merupakan keadaan tidak normal setempat sekarang menjadi wabah.
Mekipun kekacauan politik, ekonomi, dan intelektual telah mencapai tingkat yang berbahaya namun dari segi ekologi gambaran Indonesia sesudah perang kurang lebih sama dengan gambaran sebelum perang. Sebagian besar pulau Jawa penuh sesak dengan desa sawah post tradisional; komunitas- komunitas yang besar, padat, kabur, dan patah semangat merupakan bahan mentah bagi suatu masyarakat massal pedesaan yang tidak berindustri. Bagian Indonesia Dalam; Bali, Lombok dan juga Indonesia Luar; Sulawesi, Minangkabau, Batak, desa- desa sawah tradisional masih menduduki tempat yang penting; desa- desa semacam itu kepadatan penduduk walaupun tinggi tetap tidak terlampau berlebihan, dan tata kekeluargaan, politik, serta keagamaan yang sudah mapan masih tetap kokoh. Ciri- cirri Indonesia Luar adalah: (1) kantong atau enklave perkebunan dan pertambangan terpusat di tempat- tempat tertentu yang menggunakan cara kerja yang padat modal dan angkatan kerja yang tercabut dari daerah asalnya. (2) kebun tanaman ekspor yang diusahakan rakyat petani yang terpusat di beberapa daerah tertentu yang sekarang mengalami berbagai hambatan yang serius kebijaksanaan ekonomi pemerintah. (3) Perladangan tradisional, yang umumnya dikerjakan secara kekeluargaan dan kini meluas ke hutan- hutan di perdalaman pulau- pulau besar dan perbukitan pulau- pulau kecil. Indonesia merupakan suatu bunga rampai dari berbagai kesempatan yang hilang tanpa dimanfaatkan. Tidak ada tanda- tanda yang menunjukkan bahwa garis- garis besar pola adaptasi Indonesia beranekaragam (pluralitas) dari berbagai inti kebudayaan yang berbeda. Hal itu akan mengalami perubahan dalam jangka waktu yang dapat kita bayangkan di masa depan.
b. Jawa dan Jepang
Banyak perbedaan antara Jepang dan Jawa diantaranya yaitu ; perbedaan geografi, sejarah, kebudayaan, dan pendapatan per kapita ( Jepang 2x lipat dari Jawa). Di balik itu Jepang dan Jawa juga memiliki banyak persamaan yaitu dalam hal kepadatan penduduk dan dalam hal pertanian ; keduanya bergantung pada budi daya yang padat karya, kecil- kecilan, dan aneka tanaman (multricrop) yang berintikan padi. Dalam menghadapi perubahan intern dan intensif dengan Barat kedua- duanya berhasil mempertahankan tradisionalisme sosial dan kebudayaan. Pada bidang pertanian kedua Negara ini sangatlah mirip namun perbedaan yang paling mencolok adalah dalam cara bagaimana Jepang maupun Jawa memanfaatkan kenaikan penduduk. Jepang berhasil mempertahankan jumlah penduduk yang relative tidak berubah di dalam bidang pertanian padahal jumlah penduduk seluruhnya telah meningkat 2,5 kali lipat. Jepang tidak mengalami involusi dan ini akan mematahkan anggapan “determinisme sawah”. Tetapi kalau bukan involusi apa yang terjadi dengan Jepang?
Pertama, karna adanya peningkatan produktivitas pekerja bukan hanya per hektar sawah. Di Jepang produktivitas pekerja pertanian bertambah 2,6% setiap tahun sedangkan di Jawa terdapat kenaikan hasil per hektar namun hasil per pekerja tidak naik. Di Jawa struktur dasar hak milik, bentuk umum unit yang menghasilkan, dan pola keseluruhan kebudayaan pedesaan sedangkan di Jepang tampaknya relatif tidak berubah. Kenaikan dalam luaran dan produktivitas itu berdasarkan pada pola- pola tradisional dari organisasi pedesaan yang diwariskan. Di Jepang kecenderungan mengkonsolidasi tanah tidak ada dan ini menyebabkan tanah kecil- kecil yang bertebaran itu dapat terus dipertahankan. Inilah ciri khas Jepang dan Jawa; tidak ada tindakan yang diambil untuk memperluas pertanian, tidak ada kecenderungan yang nyata kea rah polarisasi kelas antara golongan tuan tanah besar dengan proletariat pedesaan, tidak ada pengorganisasian kembali secara radikal unit produksi yang berdasarkan keluarga. Akan tetapi Jepang meningkatkan produktivitas per pekerja pertanian dengan 236% sedangkan Jawa tidak naik sama sekali. Untuk Jawa, plus ca change, plus c’est la memechome dan untuk Jepang, plus c’est la meme chose, plus ca change. Untuk menjelaskan perbedaan itu secara mudah yakni kemajuan teknologi bidang pertanian yang jauh lebih besar di Jepang; irigasi diperluas, tanah pertanian diperluas dengan memperbaiki tanah yang dulunya tidak bisa digarap, pemilihan bibit disempurnakan,penggunaan pupuk ditingkatkan, kegiatan koperasi diintensifkan, dsb. Kenaikan yang besar dalam produktivitas per petani di Jepang jelas berdasarkan “perbaikan- perbaikan yang esensial dalam prktek- praktek pertanian di Jepang sesuai dengan unit produksi yang kecil”.
Penjelasan- penjelasan tersebut tidak memuaskan karna, pertama; hal itu menyangjut penggunaan bahan masa kini untuk memahami keadaan masa lampau, Jepang sudah ber”lapas landas” dan Jawa jelas sudah berinvolusi. Kedua; hal itu hanya menegaskan kembali justru perbedaan dalam kemajuan teknologi itulah yang ingin dijelaskan. Sementara di Jawa, Van der Bosch menumpangkan ekonomi di atas sistem sawah yang tradisional itu, maka Jepang menutup diri dari dari campur tangan Barat, dan bergerak menuju ke ekonomi pedesaan yang lebih komersial dan lebih aktif dengan tenaga dan kemampuan sendiri. Di lain pihak involusi menjadi ekspansi yang statis.
Di bawah ini adalah perbandingan Jepang dan Jawa yang mencolok yang akhirnya menjadi suatu pertumbuhan dan tentunya perubahan :
Variabel
Jawa
Jepang
TEKNIK











PENDUDUK









LAPANGAN KERJA








URBANISASI










PENDAPATAN PER KAPITA




DUALISME

Perbaikan yang lambat laun selama periode ini tetapi dengan cara yang sepenuhnya padat karya.








Perbaikan yang lambat laun selama periode ini ( bahkan selama periode Tokugawa). Sudah mulai modal meningkat dengan pesat yang kebanyakan dalam bentuk pupuk.



Tidak ada perluasan yang berarti di luar lapangan kerja pertanian yang tradisional tetapi pesatnya dalam penyempurnaan teknik produksi yang menyerap tenaga kerja yang menaikkan produktivitas tanah tetapi tidak menaikkan produktivitas kerja.

Terhambat. Kota- kota yang besar lebih lamban daripada jumlah penduduk dan efek hidup yang menekan laju fertilitas sehingga menunda turunnya laju pertumbuhan penduduk yang lazim pada tahap post industri.



Sektor pertanian hamper konstan, pada sector perkrbunan meningkat pesat.



Semakin tajam masukan modal dalam sector perkebunan sedangkan sector pertanian masukan yang meningkat. Perpisahan antara kedua sector itu terjadi sekaligus dalam bidang kebudayaan, sosial, dan teknologi, dengan aktivitas industri madia yang sedikit saja.
Pertumbuhan yang pesat baru mulai sesudah tahun 1870 jelas sebagai akibat turunnya angka kematian karna kenaikan standar hidup nasional dan sebagai akibat meningkatnya fertilitas secara tidak langsung disebabkan oleh meluasnya lapangan kerja di dalam sector manufaktur

Pertumbuhan yang pesat baru terjadi 1870, akibat turunnya angka kematian karena kenaikan standar hidup nasional dan meningkatnya fertilitas disebabkan oleh meluasnya lapangan kerja di dalam sector manufaktur.

Perluasan yang pesat di dalam sector industri yang menyerap seluruh pertambahan penduduk. Lapangan kerja pertanian dinilai konstan baik produktivitas tanah maupun produktivitas kerja meningkat.

Pesat. Kota- kota yang besar jauh lebih cepat tumbuh daripada jumlah penduduk. Karena laju kenaikan yang alami di kota- kota agak tertekan maka pertumbuhan kota- kota itu disebabkan oleh meningkatnya migrasi dari desa ke kota.

Sektor pertanian semakin pesat dan kenaikan ini dipergunakan untuk membiayai kenaikan sektor lainnya.

Industri tampak jelas namun tampak jelas diperlunakkan oleh hubungan yang erat dalam bidang kebudayaan, sosial, dan ekonomi di antara dua sector itu, dan oleh berkembangnya aktivitas industri kecil.

Dengan demikian, sejarah ekonomi Jepang itu adalah sejarah ekonomi Jawa yang beberapa parameternya yang genting berubah (suatu rumusan yang kalau dibalik sama benarnya) dan disinilah terdapat arti perbandingan itu. Terdapat 2 parameter penting yang sangat berubah; kehadiran pemerintah penjajahan di Jawa digantikan dengan kehadiran golongan elite pribumi yang kuat di Jepang; pengembangan pertanian yang padat modal di Jawa digantikan dengan pengembangan sistem manufaktur yang padat modal di Jepang. Selain itu, kekuatan golongan elite Jepang tumbuh dari pola kesetiaan politik tradisional yang didukung oleh agama, yang merupakan ciri khas kebudayaan Jepang pada umumnya. Jawa merupakan pantulan dari letak geografisnya yang berada di persimpangan lalu lintas dunia Timur, pantulan dari yang dimilikinya yaitu rempah- rempah oleh pulau- pulau yang berdekatan, dan pantulan dari keringkihan yang memang menjadi sifat negri Indonesia pada zaman dahulu, iklim tropis yang baik menyebabkan perkebunan di Indonesia dapat maju sedangkan di Jepang kondisi iklim menyebabkan pola pertanian perkebunan kurang adaptif. Perbedaan lain adalah perbedaan sudut pandang golongan elite maupun massa rakyat, dalam kondisi- kondisi mikro ekologi, dalam pelapisan dan mobilitas sosial, dalam sistem pasaran, dsb. Pada tingkat ekologis dan tingkat ekonomis perubahan- perubahan itu dinyatakan melalui dua saluran perbedaan. Demikianlah nasib semua ilmu pengetahuan; dia hidup dan layu karena penyahajaan (simplification).
Kehadiran pemerintah penjajahan adalah parameter yang sangat penting untuk suatu pertumbuhan dan perubahan. Seperti ekonomi di Jawa yang tradisional ada potensi untuk tumbuh. Selain itu juga dalam bidang yang lain, pada dasarnya soal pengaruh pemerintah penjajah dapat menimbulkan sumber kebudayaan, sosial, psikologis yang menghidupi industrialisme dan ekspor. Sebenarnya jika mentalitas orang Belanda dengan Jawa sama maka orang Jawa tak akan banyak yang jatuh miskin. Boeke menyatakan bahwa “orang Jawa itu bukan jatuh miskin karena mereka ‘statis’ melainkan mereka ‘statis’ karena miskin. Kenyataan bahwa industri padat modal adalah di Jepang petani terpaksa meninggalkan pedesaan untuk memasuki kehidupan kota dan menjadi anggota penuh sistem manufaktur sedangkan di Jawa sama sekali tak meninggalkan desanya, mereka tidak peduli betapa kuatnya sistem manufaktur yang mengakibatkan dislokasi yang serius dalam cara hidup dan mengakibatkan reorientasi yang penting dalam pandangan hidup. Sesungguhnya menufaktur hanyalah “sekolah” bersama bagi modernisme. Daptlah dibedakan bahwa sistem pertanian perkebunan jauh lebih efektif sebagai sarana tenaga kerja industrial dengan produksi industrial daripada industri manufaktur. Tetapi sistem agro ekonomi sebagai tempat belajar ntuk modernisasi ekonomi massa sama efektifnya dengan sistem manufaktur sehingga menimbulkan proletariat pedesaan (Mitz). Masalah petani di Jawa banyak yang menderita alasannya tidak pasti dan tanpa ada faedahnya.

c. Garis Besar Masa Depan
Di Indonesia tidak ada distribusi kekayaan nasional yang sangat menyolok tidak meratanya. Ekonomi Indonesia masih memiliki “kekendoran” yang belum dipergunakan sebagai potensi yang berujung pada pertumbuhan. Dalam penanaman modal dalam ekonomi pertanian harus menyangkut 3 hal, yaitu :
1.Ada satu kemajuan teknis yang penting dalam pertanian Jepang yang belum sepenuhnya diterapkan di Jawa yaitu pemupukan dan pemilihan bibit unggul.
2.Revolusi pertanian, dari perladangan ke pengusahaan kebun- kebun pedagangan.
3.Ada sector onderneming yang lama, yang sekarang di bawah manajemen Negara.
Kenyataannya di Indonesia pemupukan cukup tinggi untuk meningkatkan hasil sawah di Indonesia, menaikkan panen sekurang- kurangnya 20%- 30%. Dalam hal penyempurnaan irigasi, perbaikan teknik pemasaran, diversifikasi tanaman memang sudah lama dilaksanakan namun kenaikan hasil panen karena pemupukan dapat dianggap tidak lebih daripada suatu jalan keluar dari dilemanya pertanian khususnya di Jawa dan pada umumnya di Indonesia. Anehnya kenaikan produktivitas itu tidak menyebabkan kenaikan pendapatan per kapita, apalagi pertumbuhan yang melanjut. Bukan pada masalah apakah Jawa masih dapat meningkatkan hasil pertaniannya melainkan masalah pokonya adalah kenaikan itu dapat disimpan dan dipergunakan untuk membiayai sector industri yang akan dapat menyerap penduduk yang jumlahnya terus meningkat.
Sejak revolusi, Indonesia bergeser dari industrialisasi tanpa urbanisasi ke urbanisasi tanpa industrialisasi. Jika produksi pertanian tidak meningkat maka efek ekonominya sangat meluas, apalagi bagi produksi yang bukan pertanian. Kenaikan produktivitas pertanian dapat disalurkan ke investasi di sector industri maka pemupukan akan dapat memberikan sumbangan dinamis pada keadaan ekonomi umumnya. Kenaikan itu hanya akan lebih mempercepat proses “involusi’ bukan hanya dalam bidang pertanian tetapi juga bidang di seluruh masyarakat. Penerapan pemupukan itu merupakan senjata terakhir untuk pertanian rakyat petani Jawa yang dilaksanakan pada waktu iklim politik dan kebudayaan. Tidak adanya pembangunan kembali peadaban Indonesia dengan retorik yang revolusioner maka setiap perubahan arah perkembangannya akan tetap dan akan mengakibatkan kelumpuhan. Salah satu mengatasinya dengan penanaman tanaman industrial secara kecil- kecilan yang menjadi sumber dinamisme ekonomi yang kuat di Indonesia. Namun antusiasme masyarakt Indonesia kurang sehinnga proses involusi yang terjadi di Jawa merupkan bagian langsung dari alam ekonomi di masa penanaman tanaman industrial lebih besar pengaruhnya daripada pergeseran harga di pasaran dunia atau perubahan teknologi.
Berbicara mengenai petani tanaman ekspor dewasa ini berarti pada umumnya berbicara mengenai penanam karet sampai tingkt tertentu sepert kopra dan kopi. Pada dasarnya apakah karet itu menjadi sector yang terkemuka dalam transisi nasional ke pertumbuhan yang melanjut. Ditinjau dari segi analisis, ada 2 pertimbangan pokok yaitu :
Sampai di mana penanaman karet itu merupakan jenis pertanian yang lebih menguntungkan dalam hal penggunaan tanah dan tenaga kerja di luar Jawa daripada penanaman bahan makanan
Sampai di mana perbedaan itu dapat disalurkan ke investasi untuk pertumbuhan baik dalam perluasan dan penyempurnaan industri karet itu sendiri maupun dalam usaha- usaha produksi lainnya.
Dalam segi ini, proses involusi Jawa itu bertentangan dengan pengembangan; pendapatan ekspor yang diperoleh karet tersebut ditukarkan menjadi bahan makanan dan kebutuhan konsumsi lainnya yang harus di impor. Dengan demikian penanaman karet hanyalah salah satu cara di mana pendapatan per kapita tetap dipertahankan pada tingkat yang hamper konstan pada waktu pertumbuhan penduduk berlangsung. Pertanian ekspor luar Jawa hanya menjadi buntut dari pertanian bahan makanan di Jawa. Akan tetapi pemupukan, irigasi, diversifikasi tanaman, dsb hanyalah suatu akibat dalam keadaan kehidupan nasional dewasa ini dan kenyataannya memang sudah terjadi. Khususnya pembiayaan yang deficit merupakan mekanisme yang telah mengubah kekuatan “revolusi pertanian” menjadi “ekspansi yang statis”. Akibatnya akan adanya penahanan transisi dari ladang ke kebun di tengah jalan.
“Revolusi Pertanian” hanyalah setengah revolusi karna untuk memanfaatkan nilai potensial dari tanah luas yang tersedia dan sangat cocok untuk menanam pohon karet itu tidak perlu memutuskan hubungan dengan sistem penanaman cara lama. Akibatnya terjadi kenaikan pesat dalam produksi. Dengan adanya revolusi ini, buruh mendapat upah setengah dari hasil yang diperolehnya. Satu hal yang khas dalam adaptasi ini adalah bahwa pemilik kebun itu membeli produk dari buruhnya menurut harga setempat pada waktu itu atau upah buruh ditetapkan secara langsung dari harga pasaran produknya. Di lain pihak, pada saat ini Indonesia memiliki cara bahwa batas tertinggi produksi pribumi tidak ditentukan oleh batas alam. Keadaan ini sangat dipuji- puji oleh para sarjana dan pejabat colonial kerena; (1) dianggap elastis, untuk melindungi para petani dari ancaman pasaran komoditas internasional. (2) dianggap adaptif, cara tersebut yang paling efisien dalam menggunakan sumber daya. Agar revolusi dari lading ke kebun dapat berjalan dengan lancar dan tentunya berhasil maka haruslah terdapat kenaikan investasi dalam bahan- bahan penanaman, penyempurnaan metode kerja, pengolahan yang lebioh seksama, dan jaringan distribusi yang lebih efektif.
Pengusahaan tanaman ekspor oleh pemilik tanah kecil akan tetap merupakan sumber utama untuk meringankan beban ekonomi Indonesia yang semakin terpojok tetapi sama sekali tidak dapat menduduki status kekuatan pendorong bahkan mendekati status itupun hampir tidak. Sumber dinamisme lainnya dalam sector pertanian yaitu perkebunan, pada saat ini agak sediki membawa perubahan. Namun kenaikan hasilnya memberikan gambaran optimistis yang menyesatkan; menurut taksiran onderneming- onderneming, untuk menjaga agar produktivitas dapat dipertahankan mereka sudah meremajakan tanaman karet. Akibatnya adalah bahwa Indonesia pada tahun- tahun terakhir ini ketinggalan kemajuan teknologi dengan Negara- Negara lain. Indonesia bahkan tidak dapat bersing bukan hanya karet sintetis melainkan juga karet alam. Pertanian perkebunan dewasa ini hampir tidak dapat dikatakan sebagai pelopor dalam bidang apa pun juga kecuali dalam soal kemacetan dan kehancuran. Walaupun nasionalisasi terlambat namun pada akhirnya telah menghilangkan unsure rasial dalam dualisme ekonomi dan ini merupakan tahap prelude bagi kebangkitab kembali sector perkebunan. Soekarno, “keadaan ekonomi merosot, keadaan keuangan merosot, keadaan sosial merosot, dan segala bidang merosot”, Karena itu pencarian diagnosis di Indonesia membawa orang jauh melampaui analisis proses ekologi dan proses ekonomi, dan memasuki penelitian mengenai dinamik politik, sosial, dan kebudayaan bangsa Indonesia.
















REVIEW KONSEP DAN METODE EKOLOGI KEBUDAYAAN
( J.H. Steward)

Sasaran dalam Studi Ekologis
Karena ekologi kebudayaan tidak biasanya dimengerti menjadi penting untuk mengawali dengan menunjukkan dimana letak perbedaanya dari konsep ekologi lainnya dan kemudian mempertunjukkan bagaimana ekologi budaya tersebut melengkapi pendekatan/pandangan historis antropologi yang lazim digunakan untuk menentukan proses kreativitas yang termasuk dalam adaptasi lingkungan budaya.
Arti penting dari ekologi yaitu “adaptasi lingkungan“ konsep dari interaksi adaptif adalah terbiasa menjelaskan keaslian dari genotip baru dalam evolusi, menjelaskan variasi-variasi ithas dan menjelaskan jaraingan kehidupannya yang berhubungan dengan persaingan, rangkaian, klimaks, puncak dan konsep tambahan lainnya.
Meskipun pada awalnya menggunkan kumpulan bentuk konsep dari ekologi tentu saja evaluasi/berkembang dengan memasukan makhluk hidup karena mereka adalah bagian dari jaringan kehidupan dalam sebagian besar dunia. Kesulitan penting terletak pada kekurangan jelasan mengenai tujaun penggunaan konsep ekologi.
Pada dasarnya secara deskriptif analisis kekurangan sasaran biologi yang jelas yang mana digunakan oleh ekologis sacara heurislit untuk menjelaskan beberapa jenis fenomena biologis jika manusia / ekologi sosial dianggap jelas bagi alat siap pakai daripada akhirnya dua sasaran yang cukup berbeda disarankan: pertama, sebuah pemahaman tentang fungsi organik dan variasi genetik manusia yang hanya sebagai spesises biologis; kedua penentuan mengenai bagaimana kebudayaan dipengaruhi oleh adaptasi terhadap lingkungannya.
Pertama atau sasaran biologis termasuk beberapa masalah yang agak berbeda, tetapi juga harus memandang manusia didalam jaring kehidupan. Evolusi dari Heminide sangat berhubungan dengan pembentukan kebudayaan, sementara keberadaan Homo Sapiens mungkin lebih merupakan hasil dari sebab kebudayaan daripada sebab fisik.
Masalah mengenai penjelasan tingkah laku budaya manusia adalah perbedaan urutan dari penjelasan evolusi biologisnya. Salah satu konsep ekologi biologis yang penting adalah komunitas kumpulan tumbuhan-tumbuhan dan hewan yang berinteraksi di suatu tempat sosial atau pun ekologi manusia menekankan pada komunitas manusia yang sebagai bagian dari studi.
Kebudayaan lebih jelasnya potensi genetik untuk beradaptasi, akomodasi dan peninggalan menjelaskan alam/dunia masyarakat.
Banyak penulis sosial atau ekologi manusia memiliki rasa tentang kebutuhan memahami antara biologis dan fenomena dan metode kebudayaan tetapi mereka belum menggambarkan/melukiskan perbedaan dengan jelas akhirnya Hollingshead menyadari perbedaan antara sebuah “ urutan ekologis terutama berakar dari kompetisi dan organisasi sosial yang berkembang dari komunikasi“ (Hollingshead, 1940; Adams, 1935,1940). Bates (1953) seorang ahli biologis manusia menyadari bahwa pentingnya kebudayaan yaitu didalam menentukan komunitas alam, tetapi dia tidak mengungkapkan secara jelas apakah dia akan menggunakan ekologi budaya atau apakah dia tertarik pada kebudayaan manusia.
Sebuah masalah ilmiah dasar yaitu termasuk perbedaan arti ekologi. Dalam biologi, hukum evolusi dan prinsip tambahan ekologi adalah relevan pada semua jaringan kehidupan yang tidak memperhatikan spesies dan lingkungan fisik didalamnya. Pada studi ilmu sosial, ada persamaan kekuatan/upaya untuk memperbaharui proses perubahan kebudayaan universal.
Penguaraian adaptasi lingkungan untuk menunjukkan bagaimana pola kebudayaan baru timbul adalah soal yang sangat berbeda daripada meminta kesamaan universal di adaptasi seperti itu. Sampai proses kebudayaan ekologi dimengerti secara detail banyak dicontohkan oleh kebudayaan berbeda di bagian-bagian yang berbeda dunia sebuah perumusan proses universal akan mustahil.
Hawley, yang sudah memberi pernyataan yang paling baru dan menyeluruh sosial ekologi (Hawley, 1950), menerima gejala kebudayaan jauh lebih banyak daripada pendahulunya. Dia menyebutkan bahwa manusia bereaksi terhadap jaringan hidup sebagai seekor binatang kebudayaan daripada sebagai spesies biologis.”masing-masing perolehan penggunaan baru untuk teknik tua, bagaimanapun juga sumber asalnya, berubah kerabat manusia dengan jasad tentang dia dan mengubah posisinya di himpunan biotic. tapi yang diperhatikan dengan keseluruhan gejala dalam tempat kejadian rupanya dengan pencarian untuk hubungan universal, Hawley membuat masyarakat lokal focus pada minat (Hawley, 1950:68). Jenis generalisasi yang mungkin ditemukan ditunjukkan oleh pernyataan :"jika kami mempunyai cukup pengetahuan untuk masyarakat memungkinkan kami membandingkan struktur tempat tinggal kelompok diatur di urutan ukuran dari paling kecil ke paling besar, Kami niscaya sebaiknya mengamati gejala yang sama- masing-masing tambahan di ukuran ditemani oleh kemajuan di keruwetan organisasi" (hawley, 1950:197). Ini ialah jenis generalisasi yang tidak perlu dibulktikan dibuat oleh evolusioner unilinear: proses kebudayaan muncul dalam menambah jumlah penduduk,spesialisasi internal, kontrol keseluruhan negara bagian, dan corak umum lain.
Hawley tak yakin di posisinya yang memandang efek adaptasi lingkungan atas kebudayaan. Dia berpendapat: "bobot dari bukti kesimpulan yang digunakan oleh lingkungan fisik tetapi permisif dan effect membatasi" (Hawley, 1950:190), tetapi katanya juga bahwa "beberapa habitat tak hanya mengizinkan tetapi sampai tingkat tertentu mengharuskan cara hidup khas" (Hawley, 1950:190). statements Yang pertama secara dekat sesuai dengan posisi antropologis yang disetujui secara luas bahwa faktor sejarah lebih penting daripada faktor lingkungan, yang mungkin diiznkan atau menjadi kendala perubahan kebudayaan tetapi tidak pernah kausatif. Detik lebih dekat ke tesis kertas ini bahwa kebudayaan adaptasi ekologis merupakan proses kreatif.
Kebudayaan, sejarah dan lingkungan
Sedangkan manusia dan ekologi social nampaknya sudah meminta asas ekologis yang universal dan kebudayaan yang dipindahkan di jenis lokalnya ke tempat kedua, antropolog sudah begitu sibuk dengan kebudayaan dan sejarahnya yang sudah diberi oleh lingkungan mereka hanyalah tugas yang tak berarti. Berhubungan dengan reaksi bertentangan terhadap "determinis lingkungan," seperti Huntington dan Semple, dan antara lain bukti kumulatif yang ditambah oleh kebudayaan yang mana pun di keruwetan sampai benar luas karena praktek yang disebarkan, paudangan ortodoks sekarang menahan sejarah itu, daripada proses adaptif, menerangkan kebudayaan. Sejak sejarah "explanations" kebudayaan menggunakan kebudayaan, ada kontradiksi nyata. Bidang kebudayaan adalah gagasan behavioral uniformities yang terjadi dalam bidang lingkungan uniformities. Diasumsikan bidang kebudayaan dan alam secara umum
Lingkungan budaya berbeda dengan manusia dan lingkungan sosial dalam menjelaskan tentang ciri-ciri dan pola-pola budaya asli yang berbeda karakter wilayah daripada untuk memperoleh penerapan prinsip secara umum untuk situasi lingkungan budaya. Ini berbeda dengan konsep relativitas dan neo-evolusi dalam sejarah budaya yang mengenal lingkungan lokal sebagai faktor extracultural dalam asumsi yang gagal bahwa budaya berasal dari budaya. Jadi lingkungan budaya memberikan keduanya sebuah masalah dan metode. Masalah diketahui dengan pasti apakah penyesuain diri dengan manusia terhadap lingkungannya membutuhkan model-model faktor dari tingkah laku apakah mereka mengizinkan kebebasan terhadap sebuah jangkaun yang pasti kepada kemungkinan pola tingkah laku? Sebuah masalah juga membedakan lingkungan budaya dari“environtmental determination/penentuan lingkungan“ yang berhubungan dengan teori“economic determination/pententuan ekonomi“ yang keduanya pada umumnya memahami isi dari kesimpulan dalam suatu masalah. Dalam pandangan holistik semua aspek kebudayaan berfungsi saling ketergantungan antar satu dengan yang lain.
Lingkungan kebudayaan menarik perhatian yang utama terhadap fakta-fakta dimana analisis empiris menunjukkan keterlibatan yang paling dekat dalam memanfaatkan lingkungan dalam cara yang sudah ditentukan. Konsep normatif yang melihat budaya sebagai sebuah sistem yang saling menguatkan dengan sebuah rancangan tindakan dan nilai dipandang untuk menghormati semua tingkah laku manusia yang sangat beragam perbedaan oleh budaya yang dimana adaptasi lingkungan tadi berpengaruh bagaimana teknologi muktahir yang sangat bernilai, bagaimanapun juga fungsi dari tingkat sosial budaya sebaik dengan potensi lingkungan.
Konsep lingkungan budaya sangat sedikit menyinggung asal mula dan penyebaran teknologi dengan fakta dimana mereka mungkin menggunakan secara berbeda dan membawa perbedaan susunan sosial dalam setiap lingkungan. Lingkungan tidak hanya mengijinkan atau melarang kepedulian teknologi tersebut tapi ciri-ciri lokal sosial dimana hal tersebut memiliki konsekuensi yang besar. Masyarakat lain mempunyai hal yang sama dalam teknologi mungkin memamerkan pola sosial yang lain karena lingkungan berbeda yang luas bahwa adaptasi lingkungan juga berbeda. Dalam kasus terakhir ketakutan pada permainan keunggulan benih sebagai dasar upah yang sangat besar membatasi tolong menolong/kerja sama ekonomi dan dibutuhkan pembubaran masyarakat menuju arah kemerdekaan/kemandirian yang baik bagi kelompok keluarga.
coterminous karena kebudayaan melambangkan penyesuaian sampai lingkungan khusus. Diasumsikan bahwa lebih lanjut, walaupun begitu, bahwa berbagai pola berbeda mungkin ada di bidang alami dimanapun dan itu tidak seperti kebudayaan mungkin ada di lingkungan berbeda.
Pendekatan kebudayaan-sejarah, mungkin juga suatu relativism. Karena perbedaan kebudayaan tidak secara langsung diakibatkan lingkungan dan tentu sangat tidak sampai perbedaan organik atau rasial, mereka belaka seharusnya melambangkan perbedaan di sejarah kebudayaan, untuk memantulkan kecenderungan masyarakat untuk tidak berkembang seperti seharusnya. Kecenderungan seperti itu tidak diterangkan. Pola khas berkembang, itu dikatakan, dan seterusnya adalah penentu pokok apakah pembaharuan disetujui. Lingkungan dipindahkan sampai tugas yang hanya sekunder saja dan pasif. Dipertimbangkan menjadi kendala atau permisif, tetapi tidak kreatif. Membolehkan manusia meneruskan beberapa macam aktivitas ditekan sampai titik asing pada waktunya atau angkasa, tetapi mereka tidak diterangkan. Pandangan ini sudah diungkapkan oleh forde, yang menulis:
Tak satu pun berbagai distribusi dunia ekonomi, atau khusus mendiami perkembangan dan pentingnya relatif di antara mereka, bisa dipandang sebagai fungsi sederhana kondisi dan sumber alam fisik. Antara lingkungan fisik dan kegiatan manusiawi selalu ada masa tengah, koleksi-koleksi tujuan dan nilai spesifik, setelah badan pengetahuan dan kepercayaan: dengan kata lain, pola kebudayaan. Bahwa kebudayaan sendiri bukanlah gangguan udara, yang dapat menyesuaikan diri dan modifiable di kerabat sampai kondisi fisik, tidak boleh obsecure fakta bahwa adaptasi maju oleh penemuan dan penemuan sendiri adalah yang di tak ada pengertian inevitable dan yang ialah, di himpunan perseorangan yang mana pun, hampir semuanya akuisisi atau pengenaan dari tanpa. Mendiami benua utuh sudah lalai membuat penemuan yang mulanya mungkin tersipu­sipu nampak nyata. Sama-sama penting restrictions ditempatkan di samping pola sosial dan konsep agama atas penggunaan sumber penghasilan tertentu atau atas adaptasi ke kondisi fisik. (Forde, 1949: 463. )
Habitat di waktu itu juga membatasi dan memberi jangkauan untuk perkembangan kebudayaan dalam hubungan pada perlengkapan dan kecenderungan pra-existing dimana sudah ada masyarakat khusus, dan sampai konsep baru yang mana pun dan perlengkapan yang mungkin dicapainya (Forde, 1949: 464).
Tetapi jika determinis geografis lalai menerangkan keberadaan dan distribusi ekonomi, ekonomi determinism sama-sama tidak cukup dalam menerangkan organisasi sosial dan politik, kepercayaan agama dan sikap psikologis yang mungkin ditemukan di biakan berdasarkan ekonomi itu. Memang, ekonomi mungkin berutang sebanyak kepada pola sosial dan ritual seperti yang dilakukan peran masyarakat sampai ekonomi. Milik metode khusus berburu atau menanam, tanaman biakan tertentu atau hewan piaraan, tidaklah bijaksana menegaskan pola masyarakat. Lagi, ada interaksi dan dalam sebuah rencana baru. kondisi fisik mungkin membatasi kemungkinan ekonomi, oleh sebab itu ekonomi pada gilirannya mungkin menjadi faktor membatasi atau merangsang hubungan sampai ukuran, density dan stabilitas penyelesaian manusiawi, dan juga skala kesatuan sosial dan politik. Tetapi adalah hanya satu faktor seperti itu, dan keuntungan mungkin tidak memberi kesempatan itu. Hak menetap dan pengiriman tanah dan milik lain, perkembangan dan kerabat kelas soial, sifat sifat pemerintah, yang agama dan kehidupan seremonial- semua ini adalah bagian-bagian bangunan bagian atas sosial, perkembangan di antaranya terkondisikan tak hanya oleh yayasan habitat d an ekonomi, tetapi lewat kompleks intersctions dalam kainnya dan oleh kontak eksternal, sering sangat tidak peduli sampai baik latar belakang fisik dan sampai ekonomi dasar yang sama. (Forde, 1949: 465)
Metode dalam Ekologi Kebudayaan
Meskipun konsep adaptasi lingkungan mendasar pada semua ekologi kebudayaan prosedur-prosedurnya harus mengingat akan kerumitan dan tingkatan kebudayaan. Itu membuat banyak perbedaan antara komunitas terdiri atas“ hunters and gatherers“ yang hidup secara bebas dengan karyanya mereka sendiri dan sebuah pelopor di dalam bangsa yang kaya, di mana memanfaatkan kekayaan barang tambangnya terus menerus yang digunakan untuk jalan kereta api, kapal, atau pesawat terbang. Masyarakat dahulu kebudayaannya berwujud alami yang akan menjadi teknologi produktif dan rencana produktif yang mana mereka memiliki sejarah kebudayaan yang panjang.
Tiga prosedur pada ekologi kebudayaan yang mendasar adalah sebagai berikut:
1.Hubungan timbal balik antara produktifitas teknologi dengan lingkungan harus dianalisa. Maksudnya perbedaan antara teknologi zaman dulu dengan sekarang harus di lihat secara detail.
2.Corak tingkah laku yang terdapat dalam suatu eksploitasi/pemanfaatan pada sebuah daerah tertentu dengan memakai sebuah teknologi khusus harus dianalisis.
3.Aspek-aspek budaya yang lain juga harus dianalisis karena berpengaruh dalam mengetahui dengan pasti tingkat corak tingkah laku yang diperlukan dalam eksploitasi. Misalnya seperti religi.
Metodologi Tempat Dalam Ekologi Kebudayaan
Secara metodologi, ekologi kebudayaan menggambarkan adaptasi terhadap kebudayaan yang selalu memerlukan perubahan. Perubahan-perubahan itu akan ada di dalam ekologi kebudayaan. Lingkungan sebagai tempat adaptasi terhadap kebudayaan. Akan menjadi masalah jika terjadi kemiripan penyesuaian diri dengan lingkungan. Jika masyarakat itu sendiri tidak bisa menyesuaikan dengan tempat tinggalnya maka akan terjadi perubahan-perubahan yang sangat mencolok dan tentunya perubahan kebudayaan itu akan mengikuti kondisi alamnya.






















Teori evolusi kebudayaan L.H Mogan
Lewis H. Mogan (1818-1881) mula-mula adalah sorang ahli hukum yang lama tinggal di suku indian Iroquois didaerarah ulu sungai St. Lawrence dan isebelah selatan sungai-sungai Ontario dan Erie ( negara bagian New York )sebagai pengaca orang-orang indian dalam soal-soal mengeni tanah. Dengan demikian ia mendapat mendapat pengetahunan tentang kebudayan orang-orang Indian.karangan etnografinya yang pertama terbit dalam tuhun 1851, berjudul league of the Ho-de-no-Sau-nie or Iroquois. Karangan-karangan nya tentang seorang Iroquis tyerutama terpusat kepada soal-soal susunan kemasyarakatan dan sistem kekerabatan, dan dalam hal ini Mogan telah menyumbangkan yang terbesarkepda ilmu antropologi pada umumnya. Dalam memperhatikan sistem kekerabatab itu mogan Mogan mendapatkan cara untuk mengupas sistem kekerabatan dari semua suku bangsa di dunia yang jumlahnya beri-ribu itu, yang masing-msing sangat berbeda bentuknya. Didasarkan gejala kesejajaran yang seringkali ada di antara sistem istilah kekerabatan (system of kinshipterminilogi) dan kekerabatan (kiship system).
4 Menunjukan banyak banyak indifidu , yaitu Ayah, semua keluaga ayah, dan dan semua keluaga ibu. Menunjukan seorang individu saja yaitu ayah. Bahwa ayah dan saudara ayah dalam sistem Iroquis itu disebut dengan satu istilah disebabkan karena sikap orang, dan juga mungkin hak-hak dan kewajiban orang tehadap ayah itu sama. Sebaliknya bahwa ayah dan saudara ayah disebut dengan sebutan yang berlainan, disebabkan karena sikap, hak-hak dan kewajiban terhadap ayah dan saudara pria itu berbeda pula. Karena hasilnya rupa-rupanya memuaskan, maka Morgan menyabarkan angket itu di luar Amerika serikat pada berbagai suku bangsa lain di dunia melalui lembaga Smithsonian Institute, antara lain karna ia mempunyai hubungan dan pengaruh yang luas, dan ia berhasil mengumpulkan seratus tiga pulu sembilan istilah kekerabatan yang berasal dari seluruh dunia.
5Menurut Morgan, masyarakat dari semua bangsa di dunia sudah tapi menyelesaikan proses evolusi melalui delapan tingkat evolusi sebagai berikut :

1.Zaman Liar Tua, yaitu zaman sejak adanya manusia sampaiemukan api, dalam zaman ini manusia hidup dari meramu, mencari akar-akar dan tumbuhan-tumbuha liar.
2.Zaman Liar Madia, yaitu zaman sejak menemukan api, sampai ia menemukan senjata busur panah, dalam zaman ini manusia mulai merobah hidupnya dari meramu menjadi pencari ikan disungai-sungai atau menjadi pemburu.
3.Zaman Liar Muda,yaiu zaman sejak manusia mengenal busur panah, mendapat kepandaian membuat barang-barang tembikar , padan zama nin mat pemcarian nya masih pemburu.
4. Zaman Barbar Tua, yaitu zaman sejak manusia menemukan kepandaian membuat tembikar sampai ia mulai berternak atau bercocok tanan.
5.Zaman Barbar Madya, yaitu zaman sejak manusia berternak dan bercocok tanam sampai ia pandai membuat benda-benda dari logam.
6.Zaman Barbar Muda, yaitu zaman sejak menemukan kepandaian membuat benda-benda dari logam, sampai ia mengenal tulisan.
7.Zaman peradapan purba.
8.Zaman Peradapan Masakini.
Teori Morgan dapat acaman yang sangat keras dari para ahli Antropologi dari negara Inggris dan Amerika Serikat pada awal abd ke-20 ini, dan walaupun demikian ia seorang warga Amerika yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan Indian penduduk pribumi Amerika, ia tidak dianggap sebagai pendekar ilmu Antropologi Amerika. Teori Morgan menjadi terkenal dikalangan cendikiawan komunis berkat F. Engels, yang sebagai pengarang yang bergaya lancar, telah befungsi membuat populer gagasan-gagasan Marx yang sering terlalu ilmiah sifatnya itu. Ia pernah membuat buku kecil asal mula dan evolusi keluaga, hukum waris, hak milik pribadi, dan organisasi negara dan buku yang berjudul der insprung derm familie, des prifatseigenthums und der Staats (1884 ) itu, yang ditulis dengan gaya bahasa yang sangat ancar daneanak dibaca, sebenasny tidak lain dari ikhtiar dari gagasan-gagasan Morgan mengenai soal-soal yang sama dalam buku nya Acient Sosiety (1877).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar